Bismillah,
Assalamualaykum,
Melanjutkan materi Pilar Gemar Rapi bagian kedua ini dibuka dengan, mindset berbenah itu yakin bisa!
Membangun Pilar-Pilar Gemar Rapi dalam Rumah Tangga #1
Ingat, belajar artinya dari yang tidak tahu jadi tahu, dari yang melakukan tindakan lama jadi melakukan tindakan baru yang lebih baik.
Pada pilar ke 5 Menyesuaikan Kondisi Individu ( Personalized )
Metode Gemar Rapi dirancang untuk memenuhi kebutuhan individu seseorang. Nah pada task 3 ini
Apakah saya sudah memahami kebutuhan diri saya serta anggota keluarga dalam kepemilikan benda-benda di rumah?
Alhamdulillah sudah
Buatlah rangkuman diskusi keinginan serta tipe anggota keluarga saya ketika nanti bergerak berbenah
Saya, Alhamdulillah bekal pengetahuan dasar mengenai zero waste membuka wawasan tentang kepemilikan barang. Beberapa pakaian lama sudah banyak yang didonasikan, adapun gamis dan daster gak lebih dari 10 pcs, sepatu hanya ada 3 pasang, tas cukup dengan ransel, buku cukup banyak huhu, kalau belanja sekarang gak lihat ada bonus beli 1 dapat 1 gelas, benar-benar pahami kebutuhan.
Suami, Alhamdulillah, baju mulai didonasikan, tapi baju kaos yang berlebih masih disayang-sayang namun sudah ada ‘rumah’ sehingga saya lebih lega, untuk urusan meletakkan barang, suami masih terus dibisik bisik manjah sebagai ikhtiar mengingatkannya dengan lemah lembut, untuk urusan kepemilikan barang kami sepemikiran, memakai apa yang ada.
Anak, Alhamdulillah, udah lama stop belanja mainan, tinggal nabung beli aparatus montessori itupun masih direncanakan lihat kebutuhan, sepertinya bakal gak nambah lagi, soalnya sedang mengusahakan untuk sekolah yang memakai metode ini. Untuk pakaian, pun anaknya gak ribet. Sepatunya 1, tas sekolah 1, boneka yang banyak. Dan masing-masing benda sudah punya ‘rumah’ sehingga saat merapikan kembali, anak sudah bisa diajak kerjasama.
Pilar 6, RASA
RASA adalah prinsip Gemar Rapi yang merupakan akronim dari
Rapi dan Teratur
Aman dan Nyaman
Sehat dan Bersih
Alami dan Berkelanjutan
Prinsip ini yang nanti akan ada dalam tiap task selanjutnya.
Dalam hal menghargai RASA itu sendiri dalam artian sebenarnya diwakilkan oleh istilah Hygge :
Perasaan yang menenangkan dan menyenangkan
Dalam hal Gemar Rapi, Hygge diartikan:
Tempat yang nyaman adalah tempat yang ketika berada disana kita merasa jauh dari stress dan pikiran negatif
Coba list kriteria Hygge saya dan anggota keluarga saya dalam rangka memahami defenisi rasa di rumah kami :
Alhamdulillah dapat rumah dipinggir tali air, walau setiap kali hujan sekota Medan yang kadang berpotensi membuat air melimpah dan menggenangi khusus sepanjang lorong rumah kami saja, beruntung air seringnya cepat surut juga.
Rumah kami jauh dari hiruk pikuk jalan raya, tenang, semilir tanaman bambu penopang tanah sisi tali air kadang menari-nari tertiup angin.
Karena berpotensi banjir, desain rumah kami pun sedikit tinggi dari jalan depan rumah, tak banyak furniture di rumah, sebab meminimalisir serangga seperti nyamuk datang ke rumah, rumah juga harus senantiasa dalam keadaan bersih sebab khawatir tikus-tikus gentayangan lagi di dalam rumah, Alhamdulillah sekarang gak lagi.
Rapi dan Teratur
Setiap barang memiliki ‘rumah’ dan disusun berdasarkan kategorinya sehingga memudahkan serta tidak menghabiskan waktu lama saat mencarinya.
Peletakkan mainan anak pada raknya, mainan yang jarang dimainkan diletakkan dalam kontainer khusus.
Aman dan Nyaman
Simpan benda berbahaya dan potensi racun pada tempat / ‘rumah’ yang tidak dapat dijangkau anak.
Membuat ruang tengah kosong dengan furniture, sehingga anak dan anggota keluarga bebas berkegiatan di ruang tengah.
Melepas semua charger saat tidak digunakan.
Sehat dan Bersih
Stok baking soda sebagai pembersih alami. Membuat cairan lemon dan cuka. Membersihkan furniture yang rentan debu dengan lap dan cairan pembersih.
Menyapu rumah sehari dua kali, mengepel rumah dua hari sekali atau sehari sekali bila perlu. Mencuci baju dua hari sekali.
Memanfaatkan sinar matahari, sebagai pencahayaan alami saat siang, meminimalisir penggunaan lampu atau listrik saat siang hari.
Alami dan Berkelanjutan
Menanam tanaman yang bisa dimakan seperti bayam, cabai. Membuat komposter. Belanja seminggu sekali, melakukan food preparation. Memasak makanan sendiri, mengurangi jajan di luar. Mencuci sampah plastik yang terlanjur masuk rumah dan mengumpulkannya untuk dijual atau diberikan kepada pengepul.
Pilar 7, Memenuhi Standar Safety dan Hygiene
Higienis menurut Gemar Rapi sebisa mungkin steril dari kuman dan sumber penyakit.
Apakah rumah sudah sehat dan aman?
Alhamdulillah sudah, kami dari dulu tidak memakai obat nyamuk, sehingga awal sekali berumah tangga kami pakai kelambu.
Aman, rumah dipasang pagar, selain khawatir anak main ke tali air, pun ikhtiar untuk berjaga dari maling, sebab rumah kami paling ujung, hanya berbatas oleh tali air saja, sehingga kadang bisa sangat sepi sekali huhu.
Sejauh mana kehidupan sehari-hari terkoneksi dengan prinsip Safety dan Hygiene?
Anak diajarkan penggunaan kompor gas. Saya juga pernah mendapatkan info seputar pemasangan dan penggunaan selang kompor gas.
Anak diajarkan cara mencuci tangan yang baik dan benar.
Selalu sedia P3K di rumah
Periksa seluruh kondisi rumah, sebelum berangkat ke luar rumah
Dulu sempat punya tas khusus siaga bencana, sepertinya tas ini perlu dibuat lagi.
Pilar 8, Tidak Mencemari Lingkungan ( Environment )
Upaya keluarga saya agar hidup tidak mencemari lingkungan:
- Refuse : kalau terpaksa jajan di luar, pastikan membeli jajanan yang bahannya ‘sayang bumi’ apakah kertas atau daun. Membawa wadah sendiri atau menahan diri tidak jajan
- Reduce : Mengurangi pemakaian plastik, sebisa mungkin memakai kantong berbahan kain.
- Reuse : Memakai berkali-kali, pakaian yang sama, memadu padakan jilbab dengan gamis.
- Recycle : Bentuk kembali, pakaian yang tak terpakai, dijadikan kain lap, wadah botol dijadikan wadah menanam
- Rehome : donasikan baju atau sepatu anak yang sudah tak muat tapi masih bagus
- Repurpose : alih fungsi, wadah plastik yang pecah ditempel kembali, dijadikan wadah mainan anak
- Replant : Tanam kembali, menanam bawang yang sudah berakar, menanam sereh di pekarangan rumah.
- Rot : Kembali untuk bumi, membuat komposter
Sunday, October 13, 2019
Sunday, October 6, 2019
Membangun Pilar-Pilar Gemar Rapi dalam Rumah Tangga #1
Bismillah
Assalamualaykum
Setelah pada task sebelumnya membahas ‘strong why’ berbenah, minggu ini udah mulai oyong kapten haha, sebab masuk pada pembahasan Pilar-Pilar Gemar Rapi bagian pertama.
Demi mendukung Metode Gemar Rapi secara menyeluruh ada 8 Pilar yang menyangga metode ini, ibarat bangunan, jika pilarnya gak terpancang semua, ya bakal pincang dan risiko bangunan roboh.
Apa saja Pilar Gemar Rapi itu ( bagian 1 )
1. Dilakukan Oleh Sang Pemilik Barang
2. Penguatan Mindset sebagai pondasi awal
3. Perubahan Kebiasaan sebagai tujuan
4. Pengurangan Barang ( declutter)
Pilar 1, Dilakukan Sang Pemilik Barang
Alhamdulillah ya pilar pertama ini mendukung proses berbenahku selama ini, soalnya tiap kali berbenah koleksi baju kaos suami, ku selalu tanya dia dulu mana yang masih mau dipakai, dan mana yang gak.
Sebab emang sulit banget berbenah, tapi yang dibenahin barang bukan milik kita, huhu.
Yang dinyatakan barang milik sendiri itu apa sih menurut Gemar Rapi?
Setiap benda yang disimpan di rumah menjadi bermakna tatkala pemiliknya menggunakan sesuai fungsi, merawat, menghargainya, tidak diabaikan dan dilupakan.
Karena sulitnya menentukan barang itu masih dipakai sama pemiliknya jika yang membereskannya adalah bukan yang punya, maka rekomendasi Gemar Rapi adalah:
Sang pemilik barang membuat daftar atau perhitungan jumlah seluruh barang pribadi miliknya
Dengan ada catatan begini, saat keinginan menambah barang terlintas, maka kita jadi punya pertimbangan deh.
Jadi teringat kalau kita bekerja di perusahaan, pasti ada yang namanya inventaris kantor, selayaknya seperti itu juga ya kan di rumah.
Siap laksanakan mah catatan ini.
Poin pilar pertama ini aku sekalian masukkan jawaban task,
Suami pas ditanyain, Alhamdulillah sepakat. Kalau anak, sepakat juga, dari dini diajarkan mana tentang kepemilikan.
Aku gak berani nanya mamak mertua mah haha, aku jadi anggotanya aja, biasa aku mendorong suami untuk sampaikan hal penting, agar disampaikan lagi ke mamaknya, begitcu.
Seandainya mereka sibuk dan tidak berminat berbenah bersama, upaya apa yang akan Anda usahakan ke depan jika jadwal berbenah dibuat nanti
Upaya pertama adalah buat kesepakatan kepada seluruh anggota keluarga untuk
- Membereskan barang miliknya segera setelah digunakan
- Merapikan kembali jika sudah selesai berkegiatan baik itu bekerja, belajar atau bermain
- Meletakkan barang pada tempatnya
- Saling mengingatkan bila ada anggota keluarga yang lupa dengan tiga kesepakatan di atas
- Saling membantu dengan ikhlas bila anggota keluarga khilaf meletakkan barangnya
Upaya berikutnya: Sounding tanpa henti dengan penuh kasih sayang dan kelembutan
Alhamdulillah, suami udah kena sounding berbenah jauh-jauh hari. Dan dia pernah bilang begini,
‘Bun, dibuat aja jadwal apa aja yang harus ayah beresin’
Wuokeh, ssiaaap komandan!
Namun, aku harus perjelas tugas delegasi berbenah barang milik suami ini:
- Barang apa saja yang akan aku bantu eksekusinya
- Indikatornya apa, dan
- Batas waktunya gimana ( waktu pasti berapa lama barang ( declutter ) itu disimpan
Upaya lain adalah, aku ada rencana pasang whiteboard lagi, tapi suami gak suka aroma tinta spidol, aku akan mensiasatinya pakai wiregrid dan ditempel di dinding, untuk kemudian bisa jepit-jepit catatan di wire itu. Tentunya termasuk jepit jadwal berbenah pekanan, bulanan, 3 bulanan.
Jadi meskipun gak berbenah bersama, tapi suami tetap berbenah, sesuai jadwalnya :-D
Kalau upaya berbenah kepada anak, usahaku adalah tetap terus sounding, sekalian membuat catatan observasi hariannya, jadi dari catatan itu tahu mana dari perilaku anakku yang harus dibenahi, mana yang udah jadi kebiasaan positif.
Jika suami sedang berhalangan untuk berbenah sesuai jadwalnya, maka sebelumnya harus sudah dikomunikasikan apa yang tidak bisa dikerjakan, ditunda harinya, atau minta aku yang mengerjakannya.
Pilar 2, Penguatan Mindset Sebagai Pondasi Awal
Membahas mindset pembicaraan di grup sungguh membuatku menyeruput seduhan teh hijauku berkali-kali meski itu hanya dalam bayangan haha.
Mindset itu apa?
Aku pinjam catatan kawan sekelas ku Mb Yulfa, dalam buku The Secret of Mindset, menyimak kutipan Adi W Gunawan dari kamus elektronik tentang arti mind-set.
Mindset terdiri dari dua kata, Mind dan set
Mind : sumber pikiran dan memori, pusat kesadaran yang hasilkan pikiran, perasaan, ide, persepsi, menyimpan pengetahuan dan memori
Set : Mendahulukan peningkatan kemampuan dalam suatu kegiatan, keadaan utuh
Oke bagian set nya aku belum paham haha, cus ke simpulan aja ya.
Mindset : Kepercayaan ( belief ) atau sekumpulan kepercayaan ( set of beliefs ) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang. Mindset dibentuk dari apa yang masuk ke dalam diri kita bertahun-tahun.
Membaca kata ‘bertahun-tahun’ , aku mendadak horror, kebayangkan jika itu adalah mindset negative, lalu level kepercayaan ( mindset) meningkat jadi keyakinan, kemudian berujung pada kebiasaan yang dijalani seumur hidup dan gak sadar-sadar.
Lalu balik lagi memahami materi kuliah Gemar Rapi tentang Mindset.
Ada satu hal yang aku highlight, Robert Sternberg, seorang guru intelegensi mutakhir menuliskan bahwa seseorang mencapai keahlian tertentu bukanlah karena kemampua yang sudah melekat sebelumnya, melainkan dengan USAHA KERAS dan MAKSUD/TUJUAN YANG JELAS
Ada 2 Jenis Mindset :
- Fixed Mindset
Sebuah pola pikir yang mereka percaya bahwa sifat orang ufang ditetapkan sehingga hanya dibuktikan aja terus menerus. Hidup ini ya emang kayak gini. Orang yang berpikiran fixed sudah menunjukkan kemampuan sendiri sebelum ada proses pembelajaran apapun. Buruknya dari sifat ini adalah, membuat orang malas belajar hal baru.
Aku memang orangnya pemarah-lah / gak sabaran akutuh / aku emang gini orangnya mau kek mana lagi, udah default soalnya / aku orangnya emang berantakan dari sononya.
Astaghfirullah, kok ujungnya jadi manusia putus asa, putus asa untuk mengubah diri jadi lebih baik ya dengan fixed mindset ini T_T ever been there long time ago, deh huhu
Baru paham, mengapa banyak perkataan Allah dalam Al Qur’an yang memerintahkan manusia untuk berpikir,
- Growth Mindset
Orang yang ber-mindset tumbuh ini dapat berubah dan meningkat kualitasnya melalui pembelajaran dan pengalaman. Mereka punya semangat menggelora, dan tetap melakukan sekalipun kenyataannya belum berjalan baik.
Seorang sosiolog terkenal, Benjamin Barber mengatakan bahwa di dunia ini gak ada orang lemah dan kuat, orang sukses dan gagal, yang ada ORANG YANG MENJADI PEMBELAJAR atau BUKAN PEMBELAJAR.
Iya pulaklah kata Benjamin ini, dan kata Allah, Allah gak lihat HASIL tapi PROSES. Sehingga sejak awal kelahiran kita, Allah sudah tanam aplikasi FITRAH BELAJAR pada setiap manusia, dan pilihan kita saja, mau aktifkan aplikasi itu atau malah meng-uninstall-nya, huhu.
Cus masuk kepada pertanyaan kedua task Gemar Rapi, sebenarnya aku menulis kayak gini, penguatan pada diriku juga terhadap materi haha, sehingga kuikatlah dengan menuliskan poin-poin pentingnya.
1. Ikut kuliah online Gemari Pratama sekadarnya, abis kuliah abis juga kesannya, gak berbekas *berlaku untuk kuliah online lainnya
>>> Menikmati prosesnya, simak materi dan chat grup dalam keadaan riang, sehingga otak berfungsi mengingat dan memahami materi dengan baik, tetap menjalankan proses berbenah hasil dari kuliah online dengan ikhtiar terbaek, daebak!
2. Menunda menyelesaikan pekerjaan rumah, hingga menumpuk
>>> Mencicil pekerjaan rumah dan mengerjakannya dengan segera
3. Membersihkan rumah sekadarnya
>>> Membersihkan pakai prinsip RASA
4. Membeli barang baru dan mengeluarkan barang yang lama
>>> Sebelum membeli barang baru, timbang pakai Teori Kebutuhan Maslow
5. Wajar rumah berantakan karena ada balita
>>> Meski ada balita, rumah seharusnya tetap bisa rapi dan higienis
6. Berbenah hanya tugas istri/ibu
>>> Berbenah tugas setiap orang, dan bisa dilatih/dipaksakan
Wahai Saudaraku, kalian tidak akan dapat menguasai ilmu kecuali dengan 6 syarat yang akan sayan sampaikan: dengan kecerdasan, bersemangat, kesungguhan, dengan membawa bekal ( investasi ), bersama pembimbing serta waktu yang lama
( Imam Syafi’i)
Aku pernah nonton Drama Korea yang berjudul Your House Helper, dan apa kata tokoh utamanya saat membantu temannya berbenah, sejatinya saat berbenah, kau juga membenahi isi kepalamu.
Pas nontonnya, eh iya juga yak, trus aku balik zaman masih gadis dan kuliah, kondisi kamarku waktu itu, masyaAllah luarbiasa wkwkw, seperti itu jugalah isi kepalaku.
Nah, Berbenah yang diharapkan oleh Tim Gemar Rapi pada murid-murid kuliah onlinenya, gak hanya mengubah isi rumah aja secara teknis jadi rapi, tapi juga mengubah dalam-dalamnya diri kita, utuh loh!
Mindset, Gaya Hidup dan Kebiasaan
MasyaAllah Tim Gemari Pratama, sungguh kalian total banget huhu, semoga Allah memberkahi diri dan keluarga para fasilitator, Aamiin ya Rabb.
Menurut Ustadz Felix Siaw dalam bukunya How To Master Your Habits, dalam kenyataan sehari-hari menguasai suatu keahlian secara permanen itu ternyata lebih tergantung dari kebiasaan dibandingkan motivasi.
Contoh: Anak 2 tahun tinggal di Arab, dia gak punya motivasi samasekali untuk menguasai Bahasa Arab *yaiyalah haha, namun dia menguasainya, tanpa disadarinya.
Tapi beda dengan orang yang sangat ingin menguasai Bahasa Arab, namun tidak menguasainya.
Motivasi aja gak cukup, Berlatih menjadikannya Kebiasaan baru totaaaal!
Keahlian lebih banyak dipengaruhi dengan practice ( LATIHAN ) dan repetition ( PENGULANGAN ).
Jadi, setelah tadi kita udah mengubah mindset, sekarang saatnya membuatnya jadi KEBIASAAN melalui latihan dan pengulangan terus menerus.
Awalnya sulit memang untuk membentuk kebiasaan baik tapi kalau udah terbiasa dan autopilot eh malah gak bisa dihentikan serta membuat hidup kita jadi mudah. Kebayangkan kalau habit atau kebiasaan buruk yang menetap huhu.
Nah, kalau merasa kita belum menguasai sesuatu yang saangaaat kita inginkan, bisa jadi nih tulis Ustadz Felix Siaw,
Kita belum cukup banyak mengulang dan melatihnya, baik terpaksa atau sukarela
Berapa lama sih waktu yang diperlukan untuk ‘memaksakan’ kebiasaan baik itu?
Menurut penelitian, 30 hari adalah waktu yang diperlukan untuk melatih suatu dan hingga kebiasaan baru itu terbentuk. Kalau kata fasilitator, diperlukan 21 hari dilanjutkan 6 bulan tanpa putus agar jadi habit baru.
Kalau dalam keadaan lelah, berbenahnya stop dulu, lakukan dengan persiapan dan hati riang *eaaak
Berhubung mengubah kebiasaan negative dan udah jadi karakter menuju pada kebiasaan positif serta berharap jadi karakter baik itu perlu waktu luammaaa, maka benarlah apa yang dikatakan Imam Syafi’i huhu *konsisten mana konsisten
Ada pola sederhana dari Charles Duhigg di buku The Power of Habit tentang mengubah kebiasaan :
- Identifikasikan rutinitas yang ingin diubah ( auto baca task 1, kayaknya bakal nambah haha catatan identifikasinya )
- Mencoba dengan reward
- Menemukan tanda ( checklist ) apa yang jadi penghambat berubah di hari itu misal, sibuk dengan gadget ( aku banget ini, balik lagi ke management waktu ya berarti huhu)
- Susun rencana ( buat jadwal, nah ini lagi-lagi ujungnya ke buat jadwal kan yak)
- Evaluasi ( checklist jika berhasil, ulangi jika gagal)
Lakukan selama 21 hari tadi, dan lanjutkan 6 bulan tanpa putus, sertaaaa komitmen dan konsistensi yang sekuat bajaaaa ya dalam menjalankan step perubahan kebiasaaan baik ini.
Nah, saran yang aku baca dari TnJ Lecture 2, lakukan perubahan dimulai dari membiasakan habit kecil aja dulu, sederhana, small steps.
Balik lagi menjawab task,
Perubahan Kebiasaanku, aku akan …
- Meletakkan barang pada ‘rumah’nya
- Bangun subuh tiap jam 3.30 WIB
- Buat jadwal harian
- Tidak menunda pekerjaan
- Listing barang milikkuh
- Membersihkan rumah secara total dan tidak sekadar
- Mengikuti kelas online dengan hati riang ^^
Perubahaan Kebiasaan Keluarga, kami akan…
- Bangun pagi maksimal jam 06.00 WIB
- Olahraga
- Meletakkan barang pada ‘rumah’nya
- Diskusi dan Melaksanakan diagram pertimbangan sebelum beli barang
- Punya jadwal berbenah bersama
- Melakukan listing barang kepemilikan kami
Pilar 4, Pengurangan Barang ( Declutter ) dan Prinsip Lagom
Efek pindah ke rumah yang baru direnov, kami sekeluarga melakukan declutter besar-besaran.
Itu pun setelah sebulan lebih tinggal di rumah baru, declutter akan dilakukan lagi sepertinya, ditambah udah dapat materi tentang Lagom haha, makin aku memikirkan mana lagi nih yang perlu declutter.
Lagom merupakan istilah yang berasal dari Swedia yang artinya, not too little, not too much, just right.
Meskipun aku belum bisa hidup ala Mahatma Gandhi, atau Fumio Sasaki dalam buku Goodbye Things, Hidup Minimalis ala Orang Jepang, yang katanya Mba Icha salahsatu fasil di kelas, Fumio, hidup minimalisnya sangat ekstrim, tapi bisa aku upayakan untuk tidak berlebih-lebihan. Semangat.
Indikator Lagom menurut pemahamanku, setelah baca materi dan TnJ:
Jadi ada pertanyaan yang makdeg menurutku dan sempat jadi mindsetku huhu,
‘Bagaimana dengan mindset, kita beli barang, nah nanti menghindari over barang, maka akan ada barang yang keluar juga?’
Dan ini ternyata termasuk menurut Fasilitator adalah mindset keliru dan belum kuat, yang benar adalah, barang tersebut kita perlukan atau sekadar keinginan? Jadi balik lagi kepada diagram pertimbangan beli barang, atau paling banter sebelum beli kita jawab pertanyaan ini dulu deh,
Apakah masih bermanfaat dan kita gunakan?
Apakah menambah nilai untuk hidup kita ( dunia dan akhirat )?
Indikator Lagom-ku :
- Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini
- Cukup dengan barang yang dimiliki saat ini
- Disayang-sayang, dirawat dan dipakai sesuai fungsinya
- Beli barang berdasarkan KEBUTUHAN dan setelah menimbangnya memakai diagram pertimbangan ( kudu dibuat poster ini mah )
Saat decluttering nanti,
-Pilah barang yang masih dan menimbulkan spark joy saat dipakai, jika tidak segera donasikan, yang udah jelek dimanfaatkan menjadi kain lap atau fungsi lain
-Jika ada barang yang berlebih dan yakin akan manfaatnya suatu hari, maka dibuatkan 'rumah'
- Barang yang sudah tidak tahu mau diapakan lagi, maka akan dikuburkan.
- Barang yang tidak dipakai, tapi masih bisa dijual ke tukang loak, maka akan dibuatkan juga 'rumah' menunggu tukang loak datang, atau antar langsung ke lokasi pengepulan.
Dan memang, aku betah banget di rumah yang udah renovasi ini, aku bisa melakukan banyak hal dengan anakku dan terkhusus untuk diriku sendiri serta pasangan.
Alhamdulillah kelar juga Task 2 ini huhu, aku mengerjakannya pakai nyicil, karena benar-benar aku perlu pahaminya dengan seksama, menyelami kedalam diri dan pikiranku.
Berbenah, Hei kamu kegiatan yang gak sesimpel itu ternyata tapi mengubah keseluruhan hidupku haha.
Gak sabar menunggu Task berikutnya.
Semoga fasil gak mabok baca tulisan tugasku haha.
Assalamualaykum
Setelah pada task sebelumnya membahas ‘strong why’ berbenah, minggu ini udah mulai oyong kapten haha, sebab masuk pada pembahasan Pilar-Pilar Gemar Rapi bagian pertama.
Demi mendukung Metode Gemar Rapi secara menyeluruh ada 8 Pilar yang menyangga metode ini, ibarat bangunan, jika pilarnya gak terpancang semua, ya bakal pincang dan risiko bangunan roboh.
Apa saja Pilar Gemar Rapi itu ( bagian 1 )
1. Dilakukan Oleh Sang Pemilik Barang
2. Penguatan Mindset sebagai pondasi awal
3. Perubahan Kebiasaan sebagai tujuan
4. Pengurangan Barang ( declutter)
Pilar 1, Dilakukan Sang Pemilik Barang
Alhamdulillah ya pilar pertama ini mendukung proses berbenahku selama ini, soalnya tiap kali berbenah koleksi baju kaos suami, ku selalu tanya dia dulu mana yang masih mau dipakai, dan mana yang gak.
Sebab emang sulit banget berbenah, tapi yang dibenahin barang bukan milik kita, huhu.
Yang dinyatakan barang milik sendiri itu apa sih menurut Gemar Rapi?
Setiap benda yang disimpan di rumah menjadi bermakna tatkala pemiliknya menggunakan sesuai fungsi, merawat, menghargainya, tidak diabaikan dan dilupakan.
Karena sulitnya menentukan barang itu masih dipakai sama pemiliknya jika yang membereskannya adalah bukan yang punya, maka rekomendasi Gemar Rapi adalah:
Sang pemilik barang membuat daftar atau perhitungan jumlah seluruh barang pribadi miliknya
Dengan ada catatan begini, saat keinginan menambah barang terlintas, maka kita jadi punya pertimbangan deh.
Jadi teringat kalau kita bekerja di perusahaan, pasti ada yang namanya inventaris kantor, selayaknya seperti itu juga ya kan di rumah.
Siap laksanakan mah catatan ini.
Poin pilar pertama ini aku sekalian masukkan jawaban task,
Apakah anggota keluarga Anda sepakat dengan prinsip pilar pertama?
Suami pas ditanyain, Alhamdulillah sepakat. Kalau anak, sepakat juga, dari dini diajarkan mana tentang kepemilikan.
Aku gak berani nanya mamak mertua mah haha, aku jadi anggotanya aja, biasa aku mendorong suami untuk sampaikan hal penting, agar disampaikan lagi ke mamaknya, begitcu.
Seandainya mereka sibuk dan tidak berminat berbenah bersama, upaya apa yang akan Anda usahakan ke depan jika jadwal berbenah dibuat nanti
Upaya pertama adalah buat kesepakatan kepada seluruh anggota keluarga untuk
- Membereskan barang miliknya segera setelah digunakan
- Merapikan kembali jika sudah selesai berkegiatan baik itu bekerja, belajar atau bermain
- Meletakkan barang pada tempatnya
- Saling mengingatkan bila ada anggota keluarga yang lupa dengan tiga kesepakatan di atas
- Saling membantu dengan ikhlas bila anggota keluarga khilaf meletakkan barangnya
Upaya berikutnya: Sounding tanpa henti dengan penuh kasih sayang dan kelembutan
Alhamdulillah, suami udah kena sounding berbenah jauh-jauh hari. Dan dia pernah bilang begini,
‘Bun, dibuat aja jadwal apa aja yang harus ayah beresin’
Wuokeh, ssiaaap komandan!
Namun, aku harus perjelas tugas delegasi berbenah barang milik suami ini:
- Barang apa saja yang akan aku bantu eksekusinya
- Indikatornya apa, dan
- Batas waktunya gimana ( waktu pasti berapa lama barang ( declutter ) itu disimpan
Upaya lain adalah, aku ada rencana pasang whiteboard lagi, tapi suami gak suka aroma tinta spidol, aku akan mensiasatinya pakai wiregrid dan ditempel di dinding, untuk kemudian bisa jepit-jepit catatan di wire itu. Tentunya termasuk jepit jadwal berbenah pekanan, bulanan, 3 bulanan.
![]() |
| sumber: freepik |
Jadi meskipun gak berbenah bersama, tapi suami tetap berbenah, sesuai jadwalnya :-D
Kalau upaya berbenah kepada anak, usahaku adalah tetap terus sounding, sekalian membuat catatan observasi hariannya, jadi dari catatan itu tahu mana dari perilaku anakku yang harus dibenahi, mana yang udah jadi kebiasaan positif.
Jika suami sedang berhalangan untuk berbenah sesuai jadwalnya, maka sebelumnya harus sudah dikomunikasikan apa yang tidak bisa dikerjakan, ditunda harinya, atau minta aku yang mengerjakannya.
Pilar 2, Penguatan Mindset Sebagai Pondasi Awal
Membahas mindset pembicaraan di grup sungguh membuatku menyeruput seduhan teh hijauku berkali-kali meski itu hanya dalam bayangan haha.
Mindset itu apa?
Aku pinjam catatan kawan sekelas ku Mb Yulfa, dalam buku The Secret of Mindset, menyimak kutipan Adi W Gunawan dari kamus elektronik tentang arti mind-set.
Mindset terdiri dari dua kata, Mind dan set
Mind : sumber pikiran dan memori, pusat kesadaran yang hasilkan pikiran, perasaan, ide, persepsi, menyimpan pengetahuan dan memori
Set : Mendahulukan peningkatan kemampuan dalam suatu kegiatan, keadaan utuh
Oke bagian set nya aku belum paham haha, cus ke simpulan aja ya.
Mindset : Kepercayaan ( belief ) atau sekumpulan kepercayaan ( set of beliefs ) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang. Mindset dibentuk dari apa yang masuk ke dalam diri kita bertahun-tahun.
Membaca kata ‘bertahun-tahun’ , aku mendadak horror, kebayangkan jika itu adalah mindset negative, lalu level kepercayaan ( mindset) meningkat jadi keyakinan, kemudian berujung pada kebiasaan yang dijalani seumur hidup dan gak sadar-sadar.
Lalu balik lagi memahami materi kuliah Gemar Rapi tentang Mindset.
Ada satu hal yang aku highlight, Robert Sternberg, seorang guru intelegensi mutakhir menuliskan bahwa seseorang mencapai keahlian tertentu bukanlah karena kemampua yang sudah melekat sebelumnya, melainkan dengan USAHA KERAS dan MAKSUD/TUJUAN YANG JELAS
Ada 2 Jenis Mindset :
- Fixed Mindset
Sebuah pola pikir yang mereka percaya bahwa sifat orang ufang ditetapkan sehingga hanya dibuktikan aja terus menerus. Hidup ini ya emang kayak gini. Orang yang berpikiran fixed sudah menunjukkan kemampuan sendiri sebelum ada proses pembelajaran apapun. Buruknya dari sifat ini adalah, membuat orang malas belajar hal baru.
Aku memang orangnya pemarah-lah / gak sabaran akutuh / aku emang gini orangnya mau kek mana lagi, udah default soalnya / aku orangnya emang berantakan dari sononya.
Astaghfirullah, kok ujungnya jadi manusia putus asa, putus asa untuk mengubah diri jadi lebih baik ya dengan fixed mindset ini T_T ever been there long time ago, deh huhu
Baru paham, mengapa banyak perkataan Allah dalam Al Qur’an yang memerintahkan manusia untuk berpikir,
- Growth Mindset
Orang yang ber-mindset tumbuh ini dapat berubah dan meningkat kualitasnya melalui pembelajaran dan pengalaman. Mereka punya semangat menggelora, dan tetap melakukan sekalipun kenyataannya belum berjalan baik.
Seorang sosiolog terkenal, Benjamin Barber mengatakan bahwa di dunia ini gak ada orang lemah dan kuat, orang sukses dan gagal, yang ada ORANG YANG MENJADI PEMBELAJAR atau BUKAN PEMBELAJAR.
Iya pulaklah kata Benjamin ini, dan kata Allah, Allah gak lihat HASIL tapi PROSES. Sehingga sejak awal kelahiran kita, Allah sudah tanam aplikasi FITRAH BELAJAR pada setiap manusia, dan pilihan kita saja, mau aktifkan aplikasi itu atau malah meng-uninstall-nya, huhu.
Cus masuk kepada pertanyaan kedua task Gemar Rapi, sebenarnya aku menulis kayak gini, penguatan pada diriku juga terhadap materi haha, sehingga kuikatlah dengan menuliskan poin-poin pentingnya.
Tuliskan pola pikir lama Anda dan keluarga kemudian korelaksikan dengan pola pikir baru setelah Anda membaca materi pilar kedua.Pola Pikir Lama >>> Pola Pikir Baru
1. Ikut kuliah online Gemari Pratama sekadarnya, abis kuliah abis juga kesannya, gak berbekas *berlaku untuk kuliah online lainnya
>>> Menikmati prosesnya, simak materi dan chat grup dalam keadaan riang, sehingga otak berfungsi mengingat dan memahami materi dengan baik, tetap menjalankan proses berbenah hasil dari kuliah online dengan ikhtiar terbaek, daebak!
2. Menunda menyelesaikan pekerjaan rumah, hingga menumpuk
>>> Mencicil pekerjaan rumah dan mengerjakannya dengan segera
3. Membersihkan rumah sekadarnya
>>> Membersihkan pakai prinsip RASA
4. Membeli barang baru dan mengeluarkan barang yang lama
>>> Sebelum membeli barang baru, timbang pakai Teori Kebutuhan Maslow
5. Wajar rumah berantakan karena ada balita
>>> Meski ada balita, rumah seharusnya tetap bisa rapi dan higienis
6. Berbenah hanya tugas istri/ibu
>>> Berbenah tugas setiap orang, dan bisa dilatih/dipaksakan
Pilar 3, Perubahan Kebiasaan ( Habit ) Sebagai Tujuan
Wahai Saudaraku, kalian tidak akan dapat menguasai ilmu kecuali dengan 6 syarat yang akan sayan sampaikan: dengan kecerdasan, bersemangat, kesungguhan, dengan membawa bekal ( investasi ), bersama pembimbing serta waktu yang lama
( Imam Syafi’i)
Aku pernah nonton Drama Korea yang berjudul Your House Helper, dan apa kata tokoh utamanya saat membantu temannya berbenah, sejatinya saat berbenah, kau juga membenahi isi kepalamu.
Pas nontonnya, eh iya juga yak, trus aku balik zaman masih gadis dan kuliah, kondisi kamarku waktu itu, masyaAllah luarbiasa wkwkw, seperti itu jugalah isi kepalaku.
Nah, Berbenah yang diharapkan oleh Tim Gemar Rapi pada murid-murid kuliah onlinenya, gak hanya mengubah isi rumah aja secara teknis jadi rapi, tapi juga mengubah dalam-dalamnya diri kita, utuh loh!
Mindset, Gaya Hidup dan Kebiasaan
MasyaAllah Tim Gemari Pratama, sungguh kalian total banget huhu, semoga Allah memberkahi diri dan keluarga para fasilitator, Aamiin ya Rabb.
Menurut Ustadz Felix Siaw dalam bukunya How To Master Your Habits, dalam kenyataan sehari-hari menguasai suatu keahlian secara permanen itu ternyata lebih tergantung dari kebiasaan dibandingkan motivasi.
Contoh: Anak 2 tahun tinggal di Arab, dia gak punya motivasi samasekali untuk menguasai Bahasa Arab *yaiyalah haha, namun dia menguasainya, tanpa disadarinya.
Tapi beda dengan orang yang sangat ingin menguasai Bahasa Arab, namun tidak menguasainya.
Motivasi aja gak cukup, Berlatih menjadikannya Kebiasaan baru totaaaal!
Keahlian lebih banyak dipengaruhi dengan practice ( LATIHAN ) dan repetition ( PENGULANGAN ).
Jadi, setelah tadi kita udah mengubah mindset, sekarang saatnya membuatnya jadi KEBIASAAN melalui latihan dan pengulangan terus menerus.
Awalnya sulit memang untuk membentuk kebiasaan baik tapi kalau udah terbiasa dan autopilot eh malah gak bisa dihentikan serta membuat hidup kita jadi mudah. Kebayangkan kalau habit atau kebiasaan buruk yang menetap huhu.
Nah, kalau merasa kita belum menguasai sesuatu yang saangaaat kita inginkan, bisa jadi nih tulis Ustadz Felix Siaw,
Kita belum cukup banyak mengulang dan melatihnya, baik terpaksa atau sukarela
Berapa lama sih waktu yang diperlukan untuk ‘memaksakan’ kebiasaan baik itu?
Menurut penelitian, 30 hari adalah waktu yang diperlukan untuk melatih suatu dan hingga kebiasaan baru itu terbentuk. Kalau kata fasilitator, diperlukan 21 hari dilanjutkan 6 bulan tanpa putus agar jadi habit baru.
Kalau dalam keadaan lelah, berbenahnya stop dulu, lakukan dengan persiapan dan hati riang *eaaak
Berhubung mengubah kebiasaan negative dan udah jadi karakter menuju pada kebiasaan positif serta berharap jadi karakter baik itu perlu waktu luammaaa, maka benarlah apa yang dikatakan Imam Syafi’i huhu *konsisten mana konsisten
Ada pola sederhana dari Charles Duhigg di buku The Power of Habit tentang mengubah kebiasaan :
- Identifikasikan rutinitas yang ingin diubah ( auto baca task 1, kayaknya bakal nambah haha catatan identifikasinya )
- Mencoba dengan reward
- Menemukan tanda ( checklist ) apa yang jadi penghambat berubah di hari itu misal, sibuk dengan gadget ( aku banget ini, balik lagi ke management waktu ya berarti huhu)
- Susun rencana ( buat jadwal, nah ini lagi-lagi ujungnya ke buat jadwal kan yak)
- Evaluasi ( checklist jika berhasil, ulangi jika gagal)
Lakukan selama 21 hari tadi, dan lanjutkan 6 bulan tanpa putus, sertaaaa komitmen dan konsistensi yang sekuat bajaaaa ya dalam menjalankan step perubahan kebiasaaan baik ini.
Nah, saran yang aku baca dari TnJ Lecture 2, lakukan perubahan dimulai dari membiasakan habit kecil aja dulu, sederhana, small steps.
Balik lagi menjawab task,
Tulis perubahan kebiasaan apa saja yang Anda dan keluarga Anda lakukan ke depan bersama Gemar Rapi
Perubahan Kebiasaanku, aku akan …
- Meletakkan barang pada ‘rumah’nya
- Bangun subuh tiap jam 3.30 WIB
- Buat jadwal harian
- Tidak menunda pekerjaan
- Listing barang milikkuh
- Membersihkan rumah secara total dan tidak sekadar
- Mengikuti kelas online dengan hati riang ^^
Perubahaan Kebiasaan Keluarga, kami akan…
- Bangun pagi maksimal jam 06.00 WIB
- Olahraga
- Meletakkan barang pada ‘rumah’nya
- Diskusi dan Melaksanakan diagram pertimbangan sebelum beli barang
- Punya jadwal berbenah bersama
- Melakukan listing barang kepemilikan kami
Pilar 4, Pengurangan Barang ( Declutter ) dan Prinsip Lagom
Efek pindah ke rumah yang baru direnov, kami sekeluarga melakukan declutter besar-besaran.
Itu pun setelah sebulan lebih tinggal di rumah baru, declutter akan dilakukan lagi sepertinya, ditambah udah dapat materi tentang Lagom haha, makin aku memikirkan mana lagi nih yang perlu declutter.
Lagom merupakan istilah yang berasal dari Swedia yang artinya, not too little, not too much, just right.
Meskipun aku belum bisa hidup ala Mahatma Gandhi, atau Fumio Sasaki dalam buku Goodbye Things, Hidup Minimalis ala Orang Jepang, yang katanya Mba Icha salahsatu fasil di kelas, Fumio, hidup minimalisnya sangat ekstrim, tapi bisa aku upayakan untuk tidak berlebih-lebihan. Semangat.
Indikator Lagom menurut pemahamanku, setelah baca materi dan TnJ:
Jadi ada pertanyaan yang makdeg menurutku dan sempat jadi mindsetku huhu,
‘Bagaimana dengan mindset, kita beli barang, nah nanti menghindari over barang, maka akan ada barang yang keluar juga?’
Dan ini ternyata termasuk menurut Fasilitator adalah mindset keliru dan belum kuat, yang benar adalah, barang tersebut kita perlukan atau sekadar keinginan? Jadi balik lagi kepada diagram pertimbangan beli barang, atau paling banter sebelum beli kita jawab pertanyaan ini dulu deh,
Apakah masih bermanfaat dan kita gunakan?
Apakah menambah nilai untuk hidup kita ( dunia dan akhirat )?
Indikator Lagom-ku :
- Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini
- Cukup dengan barang yang dimiliki saat ini
- Disayang-sayang, dirawat dan dipakai sesuai fungsinya
- Beli barang berdasarkan KEBUTUHAN dan setelah menimbangnya memakai diagram pertimbangan ( kudu dibuat poster ini mah )
Saat decluttering nanti,
-Pilah barang yang masih dan menimbulkan spark joy saat dipakai, jika tidak segera donasikan, yang udah jelek dimanfaatkan menjadi kain lap atau fungsi lain
-Jika ada barang yang berlebih dan yakin akan manfaatnya suatu hari, maka dibuatkan 'rumah'
- Barang yang sudah tidak tahu mau diapakan lagi, maka akan dikuburkan.
- Barang yang tidak dipakai, tapi masih bisa dijual ke tukang loak, maka akan dibuatkan juga 'rumah' menunggu tukang loak datang, atau antar langsung ke lokasi pengepulan.
Dan memang, aku betah banget di rumah yang udah renovasi ini, aku bisa melakukan banyak hal dengan anakku dan terkhusus untuk diriku sendiri serta pasangan.
Alhamdulillah kelar juga Task 2 ini huhu, aku mengerjakannya pakai nyicil, karena benar-benar aku perlu pahaminya dengan seksama, menyelami kedalam diri dan pikiranku.
Berbenah, Hei kamu kegiatan yang gak sesimpel itu ternyata tapi mengubah keseluruhan hidupku haha.
Gak sabar menunggu Task berikutnya.
Semoga fasil gak mabok baca tulisan tugasku haha.
Friday, September 27, 2019
Kenapa Harus Berbenah?
Bismillah,
Assalamualaykum,
Aku kira pertanyaan kenapa, hanya ada dalam materi Blog yang aku bawakan haha, ternyata tiba masuk ke kelas Gemari Pratama eh kena lagi dengan pertanyaan kenapa?
Dan lagi-lagi setiap mau dapatkan ilmu tentang sesuatu, pastinya harus tahu dulu niat kita apa nih, jangan ujug-ujug ikut tapi gak tau untuk apa, mau ngapain, yang ada ntar mubazir dan sia-sia, naudzubillah.
Kenapa harus berbenah?
Karena rumah baru
Alhamdulillah ada rezeki untuk merenovasi rumah, keinginan renovasi ini aku cantumkan dalam secarik kertas di tahun pertama menikah dan aku tempel di dinding, MasyaAllah di tahun ke 5 pernikahan impian itu terwujud.
Nah momen renovasi ini, apalagi saat pindahan ke rumah baru. Aku decluttering lagi. Total 3 hari aku pesta dengan benda yang tidak enak dilihat, didengar dan dirasakan ( clutter )
Kata clutter berasal dari Bahasa Inggris artinya kekacauan, kebisingan, kekusutan, keributan. Pada rumah yang gak rapi, clutter muncul sebagai benda-benda yang berantakan, gak punya ‘rumah’.
Clutter juga berarti tumpukan benda yang terabaikan dan tidak dimanfaatkan secara optimal.
Makna clutter jika dikaitkan dengan pekerjaan adalah pekerjaan yang gak kita cintai tapi terpaksa dijalani setiap hari.
Ya ampun, mengganggu sekali ternyata makna clutter ini yah, bisa jadi clutter juga yang membuat hidupku gini-gini aja, sering stress gak jelas, galau, rugi finansial, kawan syaithon juga sebab ujungnya mubazir, ya Allah T_T
Nah, momen rumah baru inilah aku jadi evaluasi semuanya, aku benar-benar tegas dengan diriku sendiri, tapi ada clutter yang masih aku lemah melepaskannya huwaaa…
Beli Buku, Tapi Entah Kapan Bacanya
Saat diskusi dengan suami, apa aja clutter di rumah ini, dengan cepat dia jawab, B.U.K.U. Aku masih belum kuat merelakan novel-novel teenager-ku yang dulu ada kubeli pakai duit sendiri, ada juga dikasi, trus ada tanda-tangan penulisnya, selalu mikir gini, ntar kalau aku menulis novel, novel-novel ini yang jadi inspirasi jika sewaktu waktu writing block. Namun, sampai sekarang novelku gak kelar-kelar, sepertinya aku juga harus punya strong why untuk menulis novel.
Lalu ada buku-buku klasik waktu aku ngaji MDA zaman SD dulu, juga ada majalah. Alhamdulillah buku-buku ini punya ‘rumah’ jadi gak gitu mengganggu, paling aku menetapkan batas waktu, mana yang harus direlakan.
Baju Kaos Suami
Nah pada suami, clutter dia itu sekarang adalah baju kaos, tapi aku terlibat juga dalam menumpuknya haha, sebab tiap ada event yang kasi baju kaos, ya aku kasi ke dia, aku sesekali pakai baju kaosnya, lebih semriwing pakai daster, euy.
Baju kaos dia banyak, tapi yang dipake itu lagi itu lagi wkwkw, tapi sejauh ini gak pernah beli lagi kok.
Kardus dan Plastik
Clutter berikutnya ada kardus, nah urusan ini aku dibantu mamak mertua, Alhamdulillah ya, blio yang paling tegas perkara menumpuknya kardus di rumah, soalnya aku yang numpuk dia yang jual ke tukang botot, trus duitnya untuk emak wkwkw.
Aku menumpuk kardus, sebab bisa dibuat mainan anak, namun lagi-lagi niat, ngumpulin kardus nya aja yang kencang, buat prakarya untuk anaknya entah kapan.
Kardus ini muncul dari mana-mana, dulu bekas beli susu Olil, sekarang kardus ada dari penganan yang dibawa mahasiswa kalau bertamu, hasil berburu cemilan di gufud. Kardus itu aku buka dan rapihkan lagi, lalu kumpulin, jadinya gak menumpuk deh.
Plastik muncul akibat pola belanja, Alhamdulillah sekarang jauuuh berkurang. Kalau pun ada plastik sebisa mungkin untuk mencucinya jika kotor dan jemur lalu pakai lagi.
Ada rencana dalam otakku bahwa plastik yang terkumpul ini dikasi lagi ke kedai kelontong untuk wadah belanja buibu yang belanja ke kedainya. Begitu juga tumpukan kertas dari bab skripsi mahasiswa suamiku yang ada di rumah, sebaiknya aku kasi saja ke kedai kelontong, untuk wadah bungkus cabe dan belacan mungkin.
Gamis
Kalau mamak mertuaku, clutter blio lebih ke gamis, namun kami gak gitu terganggu sebab, aku khususnya suka pinjem gamis mamakku haha.
Dampak Clutter
Dampak clutter bagi aku adalah direpetin mamak mertua haha. ‘Barang kelen yang paling banyak’ gitu omelnya pas pindahan ke rumah sementara saat rumah lama direnov. Duh nyesek ya sis haha.
Belum lagi aku baper saat awal-awal berumah tangga, emak suka beresin barang clutter-ku, selain kesal, karena khawatir ada barang yang masih aku perlukan ikut terbuang trus aku merasa gak ada privacy huhu, tapi kan itu semua salahku ya kan, numpuk barang di rumah mamak mertua, yaiyalah haha.
Pokoknya jiwaku jadi gak sehat efek clutter ini. Stres sendiri jadinya. Kalau aku udah stress ya seisi rumah jadi gak asyik juga, suami dan anak ikutan gak nyaman dekat aku, belum lagi kehadiran nyamuk-nyamuk nakal.
Tujuan yang Ingin Dicapai Jika Berhasil Terbiasa Hidup Rapi
Pernah baca dimana gitu, sesuatu akan jadi kebiasaan bila dilakukan konsisten selama 40 hari. Pastinya tujuan berbenah kalau udah jadi habit, rumah akan senantiasa rapi.
Ingin aku hempaskan mindset pemakluman bahwa jika punya balita di rumah, dijamin rumah gak bakal bisa rapi. Azzamkan untuk bisa rapi. Kalau semua benda di rumah sudah memiliki ‘rumah’ tentu untuk merapikannya tidak perlu waktu lama, paling hanya membuat jadwal mana yang harus dibersihkan rutin sebulan atau tiga bulanan.
Kalau sudah rapi, semua penghuni rumah akan betah di rumah, barulah terasa rumahku surgaku *eaak. Hidup jadi lebih efektif, bahagia, dapat maksimal berperan dalam urusan lain seperti mengasuh anak, sebab mengasuh anak juga peran yang bakal diminta pertanggungjawabannya oleh Allah kelak di akhirat.
Jadi kalau udah gemar, bersihkan rumah udah kayak auto pilot aja gitu tanpa ada rasa bosan. Seminggu pertama ikut kelas Gemar Rapi, aku super rajin bersihkan rumah haha, sempat terbersit rasa bosan, kayaknya musti ganti suasana, misal pas berbenah, yang pertama dilakukan apakah mencuci piring, menyapu dapur, atau menyapu teras dulu.
Tujuan berikutnya adalah aku pengen gak aku aja yang rajin berbenah, suami juga, anak mah bisa aku kendalikan. Suami agak ekstra lah usahanya haha, tapi dia udah menunjukkan alarm. Tempo hari dia bilang gini, ‘Bun, buatkan ayah jadwal ya berbenah apa aja di rumah’. Nah sedapkan alarmnya, aku pun langsung membuat list pembagian pekerjaan rumah.
Kemudian, tujuan jangka panjangnya adalah, agar kebiasaan berbenah ini jadi memori yang melekat erat pada anakku, pastinya memori yang menyenangkan ya, jangan sampai anak jadi trauma urusan berbenah. Makanya sebisa mungkin berbenah aku buat jadi kegiatan menyenangkan untuk anakku, sehingga nanti dia dewasa, dia jadi gemar rapi.
Selain itu, tujuan jangka panjang lagi, semoga bisa mengarah menuju hidup zerowaste, lalu punya banyak waktu mengembangkan keahlian lain dan pastinya punya banyak waktu berkualitas dengan anak dan pasangan. Intinya lebih menikmati hidup.
Motivasi Berbenah yang Paling Memantik Semangat Berbenah
Jujur, untuk menjadikan berbenah ini kebiasaan adalah sungguh tidak mudah. Rasa malas itu kerap singgah T_T , godaan untuk menyelesaikan pekerjaan tulisan itu sangat besar dan godaan lainnya.
Tapi sebenarnya, kalau kita mendahulukan berbenah tiap pagi, menyempatkan waktu beberapa jam aja untuk berbenah, setelah itu kita bisa mengerjakan hal lain dengan aman sentosa tanpa teringat cucian piring yang menumpuk, sampah yang belum diolah, tanaman yang belum disiram, teras rumah yang belum disapu, huwaaaa….ya kan ya kan. Jadi luangkan waktu berbenah dan aku kuatkan motivasi berbenah dengan poin ini,
Kebersihan adalah Sebagian dari Iman
Kalau gak bersih berarti separo imannya entah kemana, begitulah makna kalimat semangat ini. Kalau buka kitab Fiqh bab pertama yang dibahas adalah Thaharah.
Kurang apalagi coba Islam mengedepankan kalau bersih itu super penting loh. Bahkan bersih menjadi syarat diterimanya sholat kita. MasyaAllah.
Semua Akan Ada Hisabnya
Salahsatu fase yang kita akan lewati sebelum masuk ke syurga atau nerakanya Allah adalah fase hisab ( hari perhitungan) dan ini juga maksud dari iman kepada hari Akhir.
Pada hari tersebut Allah menampakkan kepada manusia amalan di dunia, baik amal buruk maupun amal baik.
Dunia bukan tempat tinggal, tapi tempat meninggal, tak lama kita di dunia yang lama itu di akhirat, lalu bekal apa yang udah disiapkan untuk ke akhirat? Barang-barang clutter kita? Sampe disini aku jadi mewek T_T
Bahkan sampai ke jarum pentul pun, Allah akan minta pertanggungjawabannya. Apakah sedetil itu?
Intinya bertanggungjawablah pada benda yang kita miliki, sudah dimanfaatkan semaksimal mungkinkah fungsinya atau terbengkalai?
Maka paham aku maksud doa Rasul SAW saat melihat sahabatnya memakai pakaian baru,
Kenakanlah sampai lusuh.
Didoakan agar dipakai sampai gak bisa dipakai lagi, bahkan dibeberapa kisah, Rasul aja sampai jahit sendiri sandal dan bajunya yang mulai koyak T_T itu Rasul ya Rasul yang bisa aja berdoa minta gunung emas aja sama Allah sekejap mata bisa Allah kabulkan. Kita siapaaaa? Bukan Rasul euy.
Sooo, pertanyaan besar sebelum membeli sesuatu, 'Benda ini akan bawa aku ke syurga gak ya?'
Atau jangan sampai hisab kita jadi puanjaaaang sekali prosesnya gara-gara terlalu banyak benda yang harus dimintai pertanggungjawaban.
naudzubillah
*auto delete barang whishlist di aplikasi belanja online wkwkw
Suami dan Anak
Motivasi pemantik berikutnya adalah dua kesayangan. Suami layak dapat pasangan yang rajin berbenah dan anak juga layak dapat ibu yang jadi tauladan berbenah. Mereka layak dapat rumah yang bersih dan pastinya gak zolim juga terhadap lingkungan, belajar untuk hidup zerowaste minimal lesswaste.
Suami, mohon ridho dan doanya selalu.
With love Zee
Assalamualaykum,
![]() |
| Sumber : Freepik |
Aku kira pertanyaan kenapa, hanya ada dalam materi Blog yang aku bawakan haha, ternyata tiba masuk ke kelas Gemari Pratama eh kena lagi dengan pertanyaan kenapa?
Dan lagi-lagi setiap mau dapatkan ilmu tentang sesuatu, pastinya harus tahu dulu niat kita apa nih, jangan ujug-ujug ikut tapi gak tau untuk apa, mau ngapain, yang ada ntar mubazir dan sia-sia, naudzubillah.
Kenapa harus berbenah?
Karena rumah baru
Alhamdulillah ada rezeki untuk merenovasi rumah, keinginan renovasi ini aku cantumkan dalam secarik kertas di tahun pertama menikah dan aku tempel di dinding, MasyaAllah di tahun ke 5 pernikahan impian itu terwujud.
Nah momen renovasi ini, apalagi saat pindahan ke rumah baru. Aku decluttering lagi. Total 3 hari aku pesta dengan benda yang tidak enak dilihat, didengar dan dirasakan ( clutter )
Kata clutter berasal dari Bahasa Inggris artinya kekacauan, kebisingan, kekusutan, keributan. Pada rumah yang gak rapi, clutter muncul sebagai benda-benda yang berantakan, gak punya ‘rumah’.
Clutter juga berarti tumpukan benda yang terabaikan dan tidak dimanfaatkan secara optimal.
Makna clutter jika dikaitkan dengan pekerjaan adalah pekerjaan yang gak kita cintai tapi terpaksa dijalani setiap hari.
Ya ampun, mengganggu sekali ternyata makna clutter ini yah, bisa jadi clutter juga yang membuat hidupku gini-gini aja, sering stress gak jelas, galau, rugi finansial, kawan syaithon juga sebab ujungnya mubazir, ya Allah T_T
Nah, momen rumah baru inilah aku jadi evaluasi semuanya, aku benar-benar tegas dengan diriku sendiri, tapi ada clutter yang masih aku lemah melepaskannya huwaaa…
Beli Buku, Tapi Entah Kapan Bacanya
Saat diskusi dengan suami, apa aja clutter di rumah ini, dengan cepat dia jawab, B.U.K.U. Aku masih belum kuat merelakan novel-novel teenager-ku yang dulu ada kubeli pakai duit sendiri, ada juga dikasi, trus ada tanda-tangan penulisnya, selalu mikir gini, ntar kalau aku menulis novel, novel-novel ini yang jadi inspirasi jika sewaktu waktu writing block. Namun, sampai sekarang novelku gak kelar-kelar, sepertinya aku juga harus punya strong why untuk menulis novel.
Lalu ada buku-buku klasik waktu aku ngaji MDA zaman SD dulu, juga ada majalah. Alhamdulillah buku-buku ini punya ‘rumah’ jadi gak gitu mengganggu, paling aku menetapkan batas waktu, mana yang harus direlakan.
Baju Kaos Suami
Nah pada suami, clutter dia itu sekarang adalah baju kaos, tapi aku terlibat juga dalam menumpuknya haha, sebab tiap ada event yang kasi baju kaos, ya aku kasi ke dia, aku sesekali pakai baju kaosnya, lebih semriwing pakai daster, euy.
Baju kaos dia banyak, tapi yang dipake itu lagi itu lagi wkwkw, tapi sejauh ini gak pernah beli lagi kok.
Kardus dan Plastik
Clutter berikutnya ada kardus, nah urusan ini aku dibantu mamak mertua, Alhamdulillah ya, blio yang paling tegas perkara menumpuknya kardus di rumah, soalnya aku yang numpuk dia yang jual ke tukang botot, trus duitnya untuk emak wkwkw.
Aku menumpuk kardus, sebab bisa dibuat mainan anak, namun lagi-lagi niat, ngumpulin kardus nya aja yang kencang, buat prakarya untuk anaknya entah kapan.
Kardus ini muncul dari mana-mana, dulu bekas beli susu Olil, sekarang kardus ada dari penganan yang dibawa mahasiswa kalau bertamu, hasil berburu cemilan di gufud. Kardus itu aku buka dan rapihkan lagi, lalu kumpulin, jadinya gak menumpuk deh.
Plastik muncul akibat pola belanja, Alhamdulillah sekarang jauuuh berkurang. Kalau pun ada plastik sebisa mungkin untuk mencucinya jika kotor dan jemur lalu pakai lagi.
Ada rencana dalam otakku bahwa plastik yang terkumpul ini dikasi lagi ke kedai kelontong untuk wadah belanja buibu yang belanja ke kedainya. Begitu juga tumpukan kertas dari bab skripsi mahasiswa suamiku yang ada di rumah, sebaiknya aku kasi saja ke kedai kelontong, untuk wadah bungkus cabe dan belacan mungkin.
Gamis
Kalau mamak mertuaku, clutter blio lebih ke gamis, namun kami gak gitu terganggu sebab, aku khususnya suka pinjem gamis mamakku haha.
Dampak Clutter
Dampak clutter bagi aku adalah direpetin mamak mertua haha. ‘Barang kelen yang paling banyak’ gitu omelnya pas pindahan ke rumah sementara saat rumah lama direnov. Duh nyesek ya sis haha.
Belum lagi aku baper saat awal-awal berumah tangga, emak suka beresin barang clutter-ku, selain kesal, karena khawatir ada barang yang masih aku perlukan ikut terbuang trus aku merasa gak ada privacy huhu, tapi kan itu semua salahku ya kan, numpuk barang di rumah mamak mertua, yaiyalah haha.
Pokoknya jiwaku jadi gak sehat efek clutter ini. Stres sendiri jadinya. Kalau aku udah stress ya seisi rumah jadi gak asyik juga, suami dan anak ikutan gak nyaman dekat aku, belum lagi kehadiran nyamuk-nyamuk nakal.
Tujuan yang Ingin Dicapai Jika Berhasil Terbiasa Hidup Rapi
Pernah baca dimana gitu, sesuatu akan jadi kebiasaan bila dilakukan konsisten selama 40 hari. Pastinya tujuan berbenah kalau udah jadi habit, rumah akan senantiasa rapi.
Ingin aku hempaskan mindset pemakluman bahwa jika punya balita di rumah, dijamin rumah gak bakal bisa rapi. Azzamkan untuk bisa rapi. Kalau semua benda di rumah sudah memiliki ‘rumah’ tentu untuk merapikannya tidak perlu waktu lama, paling hanya membuat jadwal mana yang harus dibersihkan rutin sebulan atau tiga bulanan.
Kalau sudah rapi, semua penghuni rumah akan betah di rumah, barulah terasa rumahku surgaku *eaak. Hidup jadi lebih efektif, bahagia, dapat maksimal berperan dalam urusan lain seperti mengasuh anak, sebab mengasuh anak juga peran yang bakal diminta pertanggungjawabannya oleh Allah kelak di akhirat.
Jadi kalau udah gemar, bersihkan rumah udah kayak auto pilot aja gitu tanpa ada rasa bosan. Seminggu pertama ikut kelas Gemar Rapi, aku super rajin bersihkan rumah haha, sempat terbersit rasa bosan, kayaknya musti ganti suasana, misal pas berbenah, yang pertama dilakukan apakah mencuci piring, menyapu dapur, atau menyapu teras dulu.
Tujuan berikutnya adalah aku pengen gak aku aja yang rajin berbenah, suami juga, anak mah bisa aku kendalikan. Suami agak ekstra lah usahanya haha, tapi dia udah menunjukkan alarm. Tempo hari dia bilang gini, ‘Bun, buatkan ayah jadwal ya berbenah apa aja di rumah’. Nah sedapkan alarmnya, aku pun langsung membuat list pembagian pekerjaan rumah.
Kemudian, tujuan jangka panjangnya adalah, agar kebiasaan berbenah ini jadi memori yang melekat erat pada anakku, pastinya memori yang menyenangkan ya, jangan sampai anak jadi trauma urusan berbenah. Makanya sebisa mungkin berbenah aku buat jadi kegiatan menyenangkan untuk anakku, sehingga nanti dia dewasa, dia jadi gemar rapi.
Selain itu, tujuan jangka panjang lagi, semoga bisa mengarah menuju hidup zerowaste, lalu punya banyak waktu mengembangkan keahlian lain dan pastinya punya banyak waktu berkualitas dengan anak dan pasangan. Intinya lebih menikmati hidup.
Motivasi Berbenah yang Paling Memantik Semangat Berbenah
Jujur, untuk menjadikan berbenah ini kebiasaan adalah sungguh tidak mudah. Rasa malas itu kerap singgah T_T , godaan untuk menyelesaikan pekerjaan tulisan itu sangat besar dan godaan lainnya.
Tapi sebenarnya, kalau kita mendahulukan berbenah tiap pagi, menyempatkan waktu beberapa jam aja untuk berbenah, setelah itu kita bisa mengerjakan hal lain dengan aman sentosa tanpa teringat cucian piring yang menumpuk, sampah yang belum diolah, tanaman yang belum disiram, teras rumah yang belum disapu, huwaaaa….ya kan ya kan. Jadi luangkan waktu berbenah dan aku kuatkan motivasi berbenah dengan poin ini,
Kebersihan adalah Sebagian dari Iman
Kalau gak bersih berarti separo imannya entah kemana, begitulah makna kalimat semangat ini. Kalau buka kitab Fiqh bab pertama yang dibahas adalah Thaharah.
Kurang apalagi coba Islam mengedepankan kalau bersih itu super penting loh. Bahkan bersih menjadi syarat diterimanya sholat kita. MasyaAllah.
Semua Akan Ada Hisabnya
Salahsatu fase yang kita akan lewati sebelum masuk ke syurga atau nerakanya Allah adalah fase hisab ( hari perhitungan) dan ini juga maksud dari iman kepada hari Akhir.
Pada hari tersebut Allah menampakkan kepada manusia amalan di dunia, baik amal buruk maupun amal baik.
Dunia bukan tempat tinggal, tapi tempat meninggal, tak lama kita di dunia yang lama itu di akhirat, lalu bekal apa yang udah disiapkan untuk ke akhirat? Barang-barang clutter kita? Sampe disini aku jadi mewek T_T
Bahkan sampai ke jarum pentul pun, Allah akan minta pertanggungjawabannya. Apakah sedetil itu?
Intinya bertanggungjawablah pada benda yang kita miliki, sudah dimanfaatkan semaksimal mungkinkah fungsinya atau terbengkalai?
Maka paham aku maksud doa Rasul SAW saat melihat sahabatnya memakai pakaian baru,
Kenakanlah sampai lusuh.
Didoakan agar dipakai sampai gak bisa dipakai lagi, bahkan dibeberapa kisah, Rasul aja sampai jahit sendiri sandal dan bajunya yang mulai koyak T_T itu Rasul ya Rasul yang bisa aja berdoa minta gunung emas aja sama Allah sekejap mata bisa Allah kabulkan. Kita siapaaaa? Bukan Rasul euy.
Sooo, pertanyaan besar sebelum membeli sesuatu, 'Benda ini akan bawa aku ke syurga gak ya?'
Atau jangan sampai hisab kita jadi puanjaaaang sekali prosesnya gara-gara terlalu banyak benda yang harus dimintai pertanggungjawaban.
naudzubillah
*auto delete barang whishlist di aplikasi belanja online wkwkw
Suami dan Anak
Motivasi pemantik berikutnya adalah dua kesayangan. Suami layak dapat pasangan yang rajin berbenah dan anak juga layak dapat ibu yang jadi tauladan berbenah. Mereka layak dapat rumah yang bersih dan pastinya gak zolim juga terhadap lingkungan, belajar untuk hidup zerowaste minimal lesswaste.
Suami, mohon ridho dan doanya selalu.
With love Zee
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tip Keren Agar Ibu Santai Bicara Menstruasi Pada Anak
Assalamualaykum Bunda, Menstruasi pada anak perempuan adalah hal normal namun zaman saya dulu sungguh hal ini masih tabu, gak banyak orangt...
-
Bismillah, Assalamualaykum, Mamsii, siapa disini yang bersikeras buanget buanget pasca melahirkan ingin melakukan IMD pada bayinya? ...
-
Assalamualaykum, Melalui laman blog ini blogger menyatakan bahwa bundakhalil.blogspot.co.id adalah blog pribadi. Semua postingan berasal ...
-
Assalamualaykum, Perkenalkan saya Bunda Khalil, emak sholehah (insyaAllah ) berkacatama dan baru dikaruniai satu putra. Domisili di Me...



